Minggu, 19 Desember 2010

Bernapas Lebih Ringan Berkat Musik

Musik memang memiliki nilai tinggi dalam terapi kesehatan. Ketika mendengarkan musik, gelombang listrik yang ada di otak pendengar dapat diperlambat dan dipercepat sehingga kinerja tubuh mengalami perubahan. Bahkan musik juga punya kekuatan memengaruhi denyut jantung dan tekanan darah kita.

Hal itu salah satunya dibuktikan pada 200 pasien yang berada di ruang perawatan intensif (ICU) yang memakai alat bantu pernapasan. Ketika merkea diperdengarkan musik klasik, seperti sonata piano Mozart atau musik yang enak didengar, denyut napas pasien lebih lambat dan kecemasan mereka berkurang.

Bahkan para peneliti dari Cochrane Library yang melakukan riset ini mengatakan musik bekerja lebih baik dari obat untuk menenangkan pasien selama mereka mendapat alat bantu pernapasan dengan ventilasi mekanis.

Ventilasi mekanis yang dipakai untuk alat bantu pernapasan diketahui sering menimbulkan aneka komplikasi. Misalnya saja sesak napas, sering menyedot udara, susah bicara, rasa takut dan tidak nyaman sehingga menyebabkan kecemasan.

Walau musik sudah terbukti punya kekuatan, namun Dr.Wendy Magee, ahli terapi musik dari London mengatakan terapi musik tidaklah sederhana. Kita tidak bisa memilih musik sekenanya. "Memilih musik yang tepat sangatlah penting. Kita harus tahu mana yang berarti bagi tiap individu," katanya.

Beberapa jenis musik justru tidak bisa membuat rileks dan meningkatkan detak jantung, misalnya musik yang sangat menstimulasi, seperti musik heavy metal.

Karena musik bisa merangsang emosi, memilih musik yang tidak tepat untuk pasien justru akan menambah stres. Itu sebabnya, musik yang diperdengarkan harus disesuaikan dengan selera tiap individu.

Konsumsi Sayur Kurangi Angka Kematian

Tahukah Anda bahwa kita bisa berkontribusi untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan dengan cara mudah, yakni meningkatkan asupan sayur dan buah dalam menu harian kita?

Mengonsumsi lima porsi buah dan sayur setiap hari bisa mencegah 15.000 kematian dini, termasuk 7.000 kasus penyakit jantung koroner, 15.000 akibat kanker, dan lebih dari 3.000 akibat stroke.

Meningkatkan asupan serat juga akan menyelamatkan 4.000 jiwa, demikian menurut para ahli dari Oxford University. Angka kematian juga bisa dicegah dengan mengurangi konsumsi garam dan asupan lemak. Paling tidak 33.000 nyawa bisa diselamatkan jika jumlah orang yang makan serat secara nasional meningkat.

Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology and Community Health itu menganalisis kematian akibat stroke, kanker, dan penyakit jantung koroner dengan menghitung asupan makanan dan nutrisi. Penelitian juga dilakukan untuk melihat pengaruh pola makan pada angka kesakitan dan kematian dini pada tahun 2005 hingga 2007.

Lapar Membantu Orang Tetap Terjaga

idak bisa tidur karena perut lapar sering dialami banyak orang. Ternyata benar hal itu bisa dibuktikan secara ilmiah, lapar bisa bikin orang tetap terjaga. Apa penyebabnya?

Malahan ilmuwan menemukan jika orang tetap ingin bekerja meski dalam kondisi lelah maka perut yang lapar akan membantunya tetap terjaga. Sebaliknya perut yang kenyang akan membuat orang mudah tertidur.

Hasil penelitian yang dilaporkan ini masih dalam bentuk hewan percobaan, yaitu menggunakan lalat buah. Hal ini dikarenakan secara genetik lalat buah memiliki kepekaan terhadap kondisi kurang tidur.

Peneliti melihat bahwa salah satu cara untuk memberikan energi tambahan pada pikiran yang lelah adalah melalui rasa lapar. Terbukti pada lalat buah yang letih dan tidak diberi makan mampu tetap terjaga dan hidup lebih lama, dibandingkan dengan lalat yang diberi makan.

Hasil ini dilaporkan dalam jurnal PLoS Biology. Lalat-lalat yang tidak makan atau berada dalam kondisi lapar bisa tetap terjaga selama 28 jam, hal ini berarti 3 kali lebih lama dibandingkan dengan lalat yang sudah makan.

"Secara perspektif evolusi dan kehidupan, hasil penelitian ini masuk akal," ujar Matt Thimgan, seorang peneliti dari Washington University, seperti dikutip dari AOLHealth, Jumat (3/9/2010).

Apa sebabnya orang lapar tetap terjaga?

Hasil penelitian menemukan ketika seseorang sedang lapar, maka ia akan memiliki adrenalin lebih yang akan memberinya semangat atau energi untuk mencari makanan. Hal inilah yang membuat seseorang bisa tetap terjaga meski dalam kondisi lapar.

Meski demikian temuan ini tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk terus menerus menahan lapar agar bisa tetap terjaga. Karena kondisi tubuh yang kekurangan makan dan tidur bisa membahayakan kesehatan orang tersebut.

5 Kegiatan yang Tanpa Sadar Dilakukan Saat Tidur

Di antara berbagai jenis gangguan tidur, parasomnia termasuk yang paling mengkhawatirkan. Gangguan ini bisa membuat seseorang melakukan berbagai aktivitas tanpa disadari selama tertidur.

Jika dampak gangguan tidur pada umumnya hanya depresi dan kelelahan, dampak parasomnia bisa lebih parah lagi. Misalnya saat seseorang berjalan sambil tidur, ia bisa mengalami kecelakaan. Atau jika merokok saat tidur, tempat tidurnya bisa kebakaran.

Dikutip dari ABC News, Senin (27/9/2010), berbagai jenis aktivitas mengkhawatirkan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Berjalan
Sleepwalking atau berjalan saat tidur bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk obat-obatan, stres dan kurang tidur. Paling sering terjadi pada usia 8-12 tahun dan biasanya makin berkurang saat tumbuh dewasa.

Saat terbangun, seseorang yang berjalan dalam tidur tidak bisa mengingat apa yang dilakukannya. Beberapa pelaku tindak kriminal juga menggunakan dalih ini sebagai pembenaran untuk menghindari hukuman berat.

2. Berbicara
Hampir semua orang pasti pernah menjumpai teman atau kerabatnya sedang ngelindur atau berbicara saat tidur. Selain dipicu oleh obat-obatan, perilaku ini juga bisa sebabkan oleh stres dan gangguan mental lainnya.

Ngelindur terjadi ketika seseorang berada pada fase tidur yang disebut Rapid Eye Movement (REM), sehingga bisa berkembang menjadi REM Behaviour Disorder atau gangguan perilaku REM. Pada gangguan yang lebih terkait pada penurunan fungsi otak ini, kata-kata yang diucapkan saat ngelindur cenderung kasar misalnya berteriak, menjerit atau mengumpat.

3. Makan, minum dan merokok
Beberapa orang terbangun dengan rasa kaget karena mendapati tempat tidurnya dipenuhi puntung rokok dan remah-remah sisa makanan. Meski demikian, orang tersebut tidak ingat bagaimana sampai ada makanan di tempat itu.

Ada juga yang makin terkejut ketika mendapati kulkasnya kosong di pagi hari dan mengira ada pencuri kelaparan masuk ke rumahnya. Padahal tanpa disadari, ia berjalan saat tidur lalu mengambil makanan dan memakannya di tempat tidur.

Penyebabnya ada bermacam-macam, antara lain penggunaan obat-obatan antidepresi. Stres dan gangguan kesehatan seperti wasir atau haemorrhoid dikabarkan juga meningkatkan risiko terbentuknya perilaku semacam ini.

4. Mengirim SMS
Remaja yang sudah merasa kecanduan teknologi tidak bisa lepas dari ponsel, sekalipun saat tidur. Dampaknya bisa berbahaya, sebab beberapa orang bisa mengirimkan SMS atau bahkan email saat terlelap dan ketika terbangun ia tidak ingat apa yang telah dilakukannya.

Berbeda dengan ngelindur, mengirim SMS saat tidur atau sleep texting lebih sering terjadi di fase awal ketika seseorang belum benar-benar terlelap. Yang sering terjadi adalah ada SMS masuk, lalu secara otomatis tangannya mengetik balasan namun semuanya terjadi di luar kesadaran.

5. Berhubungan seks
Journal of Sleep Research mencatat sekitar 8 persen penderita gangguan tidur pernah berhubungan seks tanpa sadar saat tidur. Angka ini diperoleh berdasarkan pengakuan pasangannya, sebab pelakuknya tidak dapat ingat apa yang dilakukannya sepanjang malam.

Seksomnia atau berhubungan seks saat tidur termasuk parasomnia yang digolongkan dalam subkategori confusion arrousals. Gangguan ini terjadi ketika seseorang kehilangan batas yang tegas antara status terbangun dan tertidur.

Banyak Bergaul Bikin Susah Tidur

Punya banyak teman memang menyenangkan, tapi jangan lupa untuk istirahat. Sebuah penelitian menunjukkan seseorang yang banyak bergaul justru lebih banyak mengalami masalah susah tidur dibandingkan si pemalu yang kurang bersosialisasi.

Fakta ini terungkap dalam sebuah eksperimen yang dilakukan Center for Military Psychiatry and Neuroscience di Walter Reed Army Institute of Research, Maryland. Publikasinya telah dimuat dalam jurnal Sleep edisi terbaru.

Dalam eksperimen tersebut, peneliti melibatkan 48 relawan yang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama dikondisikan untuk selalu bertemu dengan banyak orang selama 36 jam dalam sehari, sedangkan kelompok yang lain diisolasi dari pergaulan.

Sebelumnya para relawan juga menjalani tes kepribadian untuk membedakan jenis kepribadian introvert (tertutup) dan esktrovert (terbuka). Ternyata 2 faktor yakni jenis kepribadian dan kondisi lingkungan berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatasi masalah susah tidur, terutama pada kelompok yang selalu bertemu banyak orang.

Ketika banyak berinteraksi dengan lingkungan, seluruh para relawan pada kelompok tersebut sama-sama mengalami gangguan tidur. Namun dibandingkan yang introvert, relawan yang cenderung ekstrovert lebih susah mengatasi gangguan tersebut.

"Kepribadian ekstrovert lebih rentan mengalami gangguan tidur ketika berada dalam lingkungan yang sibuk secara sosial," ungkap Dr Tracy Rupp, salah satu peneliti yang terlibat seperti dikutip dari Telegraph, Senin (1/11/2010).

Peneliti menduga, interaksi sosial bagi seorang yang ekstrovert menyebabkan kelelahan di bagian otak yang mengatur siklus tidur. Sebaliknya pada seorang yang introvert bagian ini relatif tidak terlalu terpengaruh oleh faktor lingkungan dan sosial.

Kurang Tidur Bisa Sangat Mematikan

Kematian bagi manusia merupakan suatu yang tak terhindarkan, cepat atau lambat hanyalah soal waktu. Dalam kaitannya dengan kesehatan, salah satu faktor yang mempercepat kematian adalah kelelahan fisik dan mental akibat kurang tidur.

Dikutip dari AskMen, Minggu (19/12/2010), berikut ini beberapa dampak mematikan dari kurang tidur.

1. Kecelakaan lalu lintas
Diperkirakan terjadi 100.000 kecelakaan lalu lintas dalam setahun akibat pengendara mengantuk, 15.000 di antaranya memakan korban tewas. Pemicu utama rasa kantuk saat berkendara adalah kelelahan karena kurang tidur.

2. Kecelakaan kerja
Rasa letih akibat kurang tidur jelas mempengaruhi performa di tempat kerja sehingga bisa berdampak pada perkembangan karir atau bahkan kehilangan pekerjaan. Dampak yang lebih buruk bisa terjadi jika bekerja dengan alat berat, sebab risikonya adalah kecelakaan kerja yang bisa menyebabkan kematian.

3. Mudah tersinggung, depresi lalu bunuh diri
Tidur yang berkualitas merupakan salah satu syarat untuk dapat berpikir dengan jernih dan rileks. Kurang tidur bisa membuat seseorang mudah tersinggung dan merasa sedih, yang jika dibiarkan berlarut-larut suatu saat bisa menyebabkan depresi atau dampak yang paling buruk yakni bunuh diri.

4. Obesitas dan serangan jantung
Pola makan yang tidak sehat memang menjadi faktor utama pemicu obesitas, namun pola tidur juga berpengaruh. Rasa letih akibat kurang tidur bisa menghambat poduksi leptin atau hormon penekan nafsu makan, sehingga porsi makan jadi tidak terkontrol. Jika berat badan sudah tak terkendali, risiko serangan jantung bisa muncul sewaktu-waktu.

5. Diabetes
Berbagai penelitian membuktikan kurang tidur menyebabkan metabolisme makanan terganggu sehingga lebih mudah mengalami kenaikan kadar gula darah. Dampaknya bisa sangat mematikan, mulai dari luka yang sulit disembuhkan hingga kegagalan fungsi ginjal dan serangan jantung.

Kenapa TBC Sulit Dihilangkan?

Sampai saat ini tuberkulosis (TBC) masih menjadi perhatian serius. Meskipun bukan tergolong penyakit baru, tapi nyatanya penyakit ini sulit untuk dihilangkan. Kenapa bisa begitu?

"Sampai saat ini belum ada satu pun negara yang masuk kategori eradikasi (tidak ada kasus sama sekali atau jumlahnya nol) untuk penyakit tuberkulosis," ujar Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, Prof dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, dalam acara temu media mengenai pencapaian MDGs untuk tuberkulosis di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (17/12/2010).

Prof Tjandra menuturkan penyebab tuberkulosis sulit untuk dihilangkan karena tuberkulosis ada dua tahap yaitu pertama tertular tapi tidak mengalami sakit. Kedua tertular lalu jatuh sakit. Saat ini ada sekitar 2 miliar penduduk di dunia yang berada dalam tahap tertular tapi tidak sakit.

"Sepanjang yang terinfeksi masih ada, maka kemungkinan tuberkulosis masih ada dan tidak bisa dihilangkan. Karena selama ini yang diobati adalah seseorang yang tertular dan sudah jatuh sakit," ungkapnya.

Meski demikian saat ini target MDGs khususnya untuk tuberkulosis sudah hampir tercapai. Hal ini berdasarkan data pada tahun 1990 jumlah prevalensi (kasus baru dan lama dari tuberkulosis) sebanyak 443 dengan target MDGs pada tahun 2015 sekitar 222 kasus, sedangkan hingga tahun 2007 prevalensinya sebesar 244 atau hampir mendekati.

Untuk kasus kematian (mortaliti) pada tahun 1990 sebanyak 92 dengan target MDGs pada tahun 2015 sebesar 46, sedangkan hingga tahun 2007 jumlah kematian tuberkulosis sebesar 39. Hal ini menunjukkan bahwa kasus kematian tuberkulosis sudah mencapai target MDGs.

Selain itu berdasarkan data dari Global Tuberculosis Control tahun 2009 diketahui bahwa Indonesia saat ini sudah berada di urutan ke 5 dari 22 negara dengan beban tuberkulosis terbanyak, sebelumnya Indonesia berada di urutan ke 3 dari 22 negara.

Namun bukan berarti Indonesia sudah aman dari ancaman tuberkulosis, karena masih ada tantangan besar untuk membasmi tuberkulosis ini. Masalah tuberkulosis yang ada di Indonesia adalah TB-HIV yang estimasi prevalensinya sebesar 3 persen, serta MDR TB (multi drug resistant tuberculosis) yang diperkirakan kasus barunya ada sekitar 6.395 kasus per tahun.

"MDR ini terjadi karena kesalahan manusia, misalnya tidak teratur dalam minum obat. Jadi pencegahannya adalah menjalankan program DOTS dengan baik sehingga orang mengonsumsi obat secara teratur. Sampai saat ini pengobatan tuberkulosis di seluruh dunia masih 6 bulan dan belum ada vaksinnya," imbuh Prof Tjandra.

Prof Tjandra menambahkan obat tuberkulosis yang saat ini dugunakan seperti quinolon juga diberikan untuk penyakit-penyakit lain seperti halnya H1N1, sehingga jika orang ini terkena tuberkulosis kemungkinan ia sudah menjadi kebal dengan obat tersebut.

Salah satu cara untuk menanggulangi TBC adalah dengan menggunakan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang terdiri dari lima komponen, yaitu:
1.Komitmen pemerintah untuk mempertahankan kontrol terhadap TB, dengan pendanaan yang meningkat dan berkesinambungan.
2.Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopik yang terjamin mutunya.
3.Tatalaksana pengobatan standar, pengobatan teratur selama 6-8 bulan, melalui supervisi dan pengawasan.
4.Sistem manajemen logistik obat yang bermutu dan efektif, ketersediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus.
5.Sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi, termasuk penilaian dampak dan kinerja program.